Minggu, 30 April 2017

Ragu?

Apa arti kebaikan? Apa arti kebahagiaan? Mengapa kita hidup di dunia yang menganggap jika hal baik dikatakan baik jika sudah terbukti baik bagi orang kebanyakan? Apa arti dari kebaikan itu sendiri bila kita diamkan dan tidak dapat dibuktikan? Apa itu artinya sebuah kebohongan? Apa arti kejahatan? Apa arti penderitaan? Mengapa kita hidup di dunia yang menganggap jika hal jahat dikatakan jahat apabila terbukti buruk bagi orang kebanyakan? Apa arti dari kejahatan itu sendiri bila didiamkan dan tidak dibuktikan? Apa itu artinya sebuah kebohongan?
Dunia yang kita tinggali sekarang hanya sebagian kecil dari seluruh manusia yang mengetahui kebenaran dari semua hal didunia ini. Orang yang berkeinginan, bukan yang berkebutuhan. Ingin untuk mencari tahu , bukan butuh untuk mengetahui. Apakah kalian hidup dengan nyaman dan tenang di lingkungan dan juga kehidupan kalian? Jika iya, makan kalian sudah termasuk dalam bagian suatu kelompok. Kelompok yang bersama menilai bahwa sesuatu baik bila bersama mengatakan baik dan buruk bila bersama mengatakan buruk. Bersama dengan masyarakat. Masyarakat yang melihat hal hanya dari satu sisi. Sisi yang asal dan langsung menilai. Penilaian yang bahkan masyarakat sendiri belum mengetahui nilainya.
Apakah pandangan memang seperti itu? Memandang sebelah mata. Mendekat bila memerlukan, berpaling bila dibutuhkan. Masyarakat yang sudah seperti ini berarti sudah nyaman dengan sistem yang mereka percayai. Dengan datangnya hal baru dan hal yang mengejutkan, akan dipandang mengancam bagi mereka yang entah itu baik atau buruk. Itukah cara mereka mempertahankan diri? Dengan memperlihatkan sisi jahat mereka. Membuat pembawa hal baru tidak berniat memperlihatkan bawaannya?.
Apanya yang baik, apanya yang buruk. Mengetahui hal yang baik dan buruk saat berkembang di lingkungan sama dengan membuat produk penilai baru. Produk tanpa ada perubahan. Suatu produk tanpa ada nilai baru. Produk yang hanya akan menambah produk penilai lainnya. Apa itu yang dinamakan bergerak maju. Apa itu yang dinamakan ketenangan. Apa bila produk mengubah nilainya, produk lain akan melihat produk tersebut sebagai ancaman. Ancaman atas kenyamanan mereka. Ancaman atas tempat mereka.
Kekhawatiran yang berakibat hilang kesadaran, yang akan berujung kesengsaraan alih-alih kebahagiaan. Sengsara dengan dan atau tanpa merasa iba. Bahagia dengan dan atau tanpa merasa bersalah. Benar yang salah dan salah yang benar. Mengapa dua hal yang berlawanan dapat menjadi satu? Apakah selama ini orang-orang mengatakan yang benar namun salah dan yang salah namun benar? Apakah kenyataan tentang hal-hal tersebut adalah BENAR? atau SALAH? Terserah Anda ingin memilih yang mana?

Jumat, 28 April 2017

Biasa

       
       Berbicara masalah lingkungan, sudah sering kita mendengar kalau lingkungan membentuk seseorang. Lingkungan adalah salah satu faktor yang bisa dikatakan sebagai faktor yang sangat mempengaruhi perilaku seseorang, karena lingkunganlah tempat seseorang bergaul dengan yang lain.
Di lingkungan sendiri, seseorang dianggap berbuat baik bila lingkungan banyak orang di lingkungan tersebut membenarkan perbuatan tersebut, bila tidak maka hal yang dilakukan orang tersebut dianggap tabu atau perbuatan tersebut tidak diinginkan oleh masyarakat. Contoh untuk artikel kali ini adalah cara berpakaian.
Cara berpakaian seseorang atau Fashion umumnya berbeda satu dengan yang lain, tergantung dari siapa yang diikuti, kenapa mereka memakai itu, dan apa yang mendasari mereka mengenakan pakaian tersebut. Pada zaman sekarang, acuan dari cara berpakaian adalah apa yang seseorang lihat di televisi atau media sosial. Kebanyakan acuan seseorang yang dilihat adalah publik figur atau artis yang menurut mereka pakaian yang tersebut bagus dan pas digunakan.
Bagi seseorang yang tinggal di daerah yang cukup longgar yang dalam artian hukum adat atau hukum wilayahnya tidak terlalu mengekang, meniru cara berpakaian yang bermodel “aneh” dan langsung terjun ke lingkungannya tidak terlalu diperhatikan boleh tidaknya. Tetapi hal tersebut berbeda bila di lingkungan seseorang berada memiliki hukum adat dan hukum wilayah yang sangat ketat dan mengikat, tentu saja bila berpakaian dengan model “aneh” akan dianggap tabu oleh masyarakat dan membuat malu bagi yang mengenakan.
Tetapi, apa jadinya bila wilayah yang menganggap hal berpakaian tersebut tabu mengubah hal tersebut menjadi tidak ada masalah bila mengenakan? Hal tersebut dapat terjadi dengan mudah apabila seseorang yang melakukan hal yang dianggap tabu mengubah pola pikir orang lain tentang perilakunya dan juga mengajak orang lain dan terus menerus mengajak yang lain untuk mengikutinya, hingga keadaan yang semula dianggap tabu tidak ada lagi karena pelaku yang melakukan hal tersebut memiliki masa yang cukup banyak dan perilaku tersebut akan menjadi lumrah atau biasa di daerah tersebut. Seperti misalnya pakaian yang banyak anak muda segani adalah pakaian yang berjenis “kurang bahan” atau apabila lebih sedikit bahan lebih menarik seseorang tersebut.
Ketika satu hal tabu menjadi hal yang biasa, maka hal tabu yang lain pasti mengikuti. Bukan cuma cara berpakaian saja, mungkin nanti hal-hal yang berbentuk kekerasan atau kejahatan menjadi hal biasa terjadi. Sesuatu yang baru dapat dengan mudah membuat seseorang penasaran dan membuat seseorang berpikir apakah hal tersebut berguna bagi dia atau tidak. Hanya dengan sedikit mengubah pola pikir seseorang atau bahkan masyarakat, tindakan yang semula buruk dapat diubah menjadi sesuatu yang biasa dan bahkan dapat juga dianggap lebih baik.

Dalam konteks dari teks ini, hal yang buruk adalah yang sudah tentu dapat dikatakan buruk. Dan mungkin sesuatu yang buruk bagi masyarakat dapat dikatakan atau ada kemungkinan hal yang terbaik bagi masyarakat. Penilaian atas sesuatu dasarnya hanya berasal dari diri sendiri tetapi bila lingkungan ikut menilai sesuatu itu maka, penilaian yang kita berikan akan menjadi keraguan dalam diri.

Kamis, 27 April 2017

Nasib UMKM


               Masalah ekonomi, adalah masalah yang dapat terjadi baik di sengaja ataupun tidak. Masalah yang terjadi pun bermacam-macam, tergantung yang terlibat, pihak yang berpangkat tinggi atau yang tidak memiliki pangkat. Sekarang saya akan membahar masalah ekonomi dari pihak Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM).
            Sejauh ini Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) di Indonesia per tahun 2013 menurut Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah ada sebanyak 57.895.721 unit usaha dan sebanyak 114.144.082 orang sebagai tenaga kerja di unit usaha. Angka sebanyak itu terbilang sangat besar, karena jumlah penduduk di Indonesia pada tahun 2013 sebanyak 251.3 juta. Jadi dengan kata lain hampir setengah dari penduduk Indonesia menjalankan usaha yang bertaraf kecil dan menengah.
            Masalah ekonomi yang terjadi kepada pihak Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) biasanya berupa masalah modal dan fasilitas. Modal yang di dapatkan UMKM kebanyakan dari modal sendiri dan pinjaman dari bank, dan fasilitas yang digunakan oleh UMKM sendiri masih terbilang alat yang sederhana, saya menilai hal itu belum cukup memenuhi kebutuhan dari usaha yang dijalankan. Saya melihat UMKM banyak yang tutup akibat kalah saing dengan perusahaan besar yang tiba-tiba muncul di suatu daerah, yang di sini dapat terlihat kesenjangan yang terjadi antara perusahaan yang memiliki modal besar dan fasilitas manufaktur yang modern dengan usaha yang memiliki modal secukupnya dan fasilitas penunjang yang terbilang tradisional. Dengan kata lain bila hal ini terus terjadi, pemodal yang hanya berinvestasi ke perusahaan besar maka setengah penduduk di Indonesia dapat kehilangan pekerjaan mereka, tanpa pemodal mengetahui potensi dari usaha kecil dan menengah yang bergeser.
Selain dari pemodal, saya melihat juga dampak dari sisi teknologi sekarang yang maju begitu pesat. Banyak dari pengusaha mengaku Sumber Daya Manusia (SDM) mereka belum terlalu fasih menggunakan teknologi baru. Pemasaran yang terbilang hanya sebatas selebaran dan dari mulut ke mulut membuat produk dan jasa mereka kurang dilihat, dibandingkan dengan perusahaan besar yang mengiklankan atau mempromosikan produk dan jasa mereka yang memanfaatkan media online, internet, dan media sosial yang sekarang ini banyak diminati oleh kaum muda yang mudah penasaran dengan suatu produk.
            Hal ini pun telah sampai ke telinga petinggi negara ini dan telah ditanggapi dengan kongres yang baru-baru ini telah diadakan yaitu Kongres Ekonomi Umat (KEU) yang digelar Majelis Ulama Indonesia (MUI) di Hotel Syahid Jaya, Jakarta, Sabtu (22/4/2017) yang mana kegiatan ini juga turut mengundang orang nomor satu di Indonesia yaitu Bapak Presiden Joko Widodo (Jokowi). Di dalam kongres tersebut Ketua Umum MUI, KH Ma’ruf Amin mengatakan pembangunan ekonomi di Indonesia selama ini berpusat kepada pihak yang di atas, dan oleh karena itu menurut dia jika sudah saatnya pembangunan ekonomi juga bermula dari pihak bawah untuk menghilangkan kesenjangan yang terjadi.