Kamis, 27 April 2017

Nasib UMKM


               Masalah ekonomi, adalah masalah yang dapat terjadi baik di sengaja ataupun tidak. Masalah yang terjadi pun bermacam-macam, tergantung yang terlibat, pihak yang berpangkat tinggi atau yang tidak memiliki pangkat. Sekarang saya akan membahar masalah ekonomi dari pihak Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM).
            Sejauh ini Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) di Indonesia per tahun 2013 menurut Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah ada sebanyak 57.895.721 unit usaha dan sebanyak 114.144.082 orang sebagai tenaga kerja di unit usaha. Angka sebanyak itu terbilang sangat besar, karena jumlah penduduk di Indonesia pada tahun 2013 sebanyak 251.3 juta. Jadi dengan kata lain hampir setengah dari penduduk Indonesia menjalankan usaha yang bertaraf kecil dan menengah.
            Masalah ekonomi yang terjadi kepada pihak Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) biasanya berupa masalah modal dan fasilitas. Modal yang di dapatkan UMKM kebanyakan dari modal sendiri dan pinjaman dari bank, dan fasilitas yang digunakan oleh UMKM sendiri masih terbilang alat yang sederhana, saya menilai hal itu belum cukup memenuhi kebutuhan dari usaha yang dijalankan. Saya melihat UMKM banyak yang tutup akibat kalah saing dengan perusahaan besar yang tiba-tiba muncul di suatu daerah, yang di sini dapat terlihat kesenjangan yang terjadi antara perusahaan yang memiliki modal besar dan fasilitas manufaktur yang modern dengan usaha yang memiliki modal secukupnya dan fasilitas penunjang yang terbilang tradisional. Dengan kata lain bila hal ini terus terjadi, pemodal yang hanya berinvestasi ke perusahaan besar maka setengah penduduk di Indonesia dapat kehilangan pekerjaan mereka, tanpa pemodal mengetahui potensi dari usaha kecil dan menengah yang bergeser.
Selain dari pemodal, saya melihat juga dampak dari sisi teknologi sekarang yang maju begitu pesat. Banyak dari pengusaha mengaku Sumber Daya Manusia (SDM) mereka belum terlalu fasih menggunakan teknologi baru. Pemasaran yang terbilang hanya sebatas selebaran dan dari mulut ke mulut membuat produk dan jasa mereka kurang dilihat, dibandingkan dengan perusahaan besar yang mengiklankan atau mempromosikan produk dan jasa mereka yang memanfaatkan media online, internet, dan media sosial yang sekarang ini banyak diminati oleh kaum muda yang mudah penasaran dengan suatu produk.
            Hal ini pun telah sampai ke telinga petinggi negara ini dan telah ditanggapi dengan kongres yang baru-baru ini telah diadakan yaitu Kongres Ekonomi Umat (KEU) yang digelar Majelis Ulama Indonesia (MUI) di Hotel Syahid Jaya, Jakarta, Sabtu (22/4/2017) yang mana kegiatan ini juga turut mengundang orang nomor satu di Indonesia yaitu Bapak Presiden Joko Widodo (Jokowi). Di dalam kongres tersebut Ketua Umum MUI, KH Ma’ruf Amin mengatakan pembangunan ekonomi di Indonesia selama ini berpusat kepada pihak yang di atas, dan oleh karena itu menurut dia jika sudah saatnya pembangunan ekonomi juga bermula dari pihak bawah untuk menghilangkan kesenjangan yang terjadi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar